Friday, 6 November 2009

Artikel Tentang Iptek

Artikel Iptek yang Humanis

Senin, 13 Juli 2009 21:37:53 - oleh : redaksi - dilihat 285
Bu Neni, salam kenal. Sebenarnya saya sudah lama kenal dengan ibu, tetapi ibu pasti belum kenal saya, sebab saya selalu mengikuti penjelasan – penjelasan ibu di Rubrik Pustaka. Meskipun ibu menjawab pertanyaan orang lain, tetapi pelan-pelan saya juga menerapkannya, terutama yang mengenai cara menulis artikel. Sehingga sekarang saya sudah menulis beberapa artikel. Semuanya tentang teknologi, sesuai dengan pekerjaan saya sebagai guru fisika di sebuah SMA. Tapi, sampai sekarang saya belum belum berani mengirimkan artikel-artikel tersebut ke surat kabar. Soalnya, setiap kali saya minta orang – orang di sekitar saya untuk membacanya, mereka selalu bilang kalau artikel itu terlalu berat dan memusingkan, seperti pelajaran di sekolah. Mereka juga bilang kalau isi artikel itu hanya teori saja yang tidak bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ada yang bilang kalau artikel itu kurang humanis. Bu, saya ingin bertanya, apakah artikel iptek itu harus sederhana, implementatif dan humanis? Kalau saya menyisipkan nuansa humanis, apa nanti tidak dikira artikel sosial? Ini saja pertanyaan saya, mohon segera dijawab.

Aristi - Malang

Salam kenal juga Bu Aristi. Terima kasih karena telah setia menyimak Rubrik Pustaka. Memang bahasan di Rubrik Pustaka berdasarkan pertanyaan – pertanyaan yang saya terima. Namun demikian, umumnya pertanyaan – pertanyaan tersebut juga dialami oleh kebanyakan orang. Sehingga sesungguhnya jawaban saya juga bisa diterapkan oleh siapa saja. Dalam hal ini Bu Aristi telah melakukannya.
Saya sangat senang dengan keberhasilan ibu menulis beberapa artikel iptek. Saya juga salut dengan langkah ibu yang melibatkan first reader (pembaca pertama) sebelum mengirimkannya ke surat kabar. Langkah ini akan membantu ibu untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari tulisan, sehingga bisa dikoreksi sebelum dikirim ke redaksi surat kabar dan dipertandingkan dengan artikel – artikel lain.
Bu Aristi, artikel untuk surat kabar, termasuk artikel iptek, haruslah bernuansa populer, mengingat karakteristik pembaca surat kabar yang sangat heterogen baik dari segi usia, pendidikan, tempat tinggal, suku, jenis kelamin, dan sebaliknya. Selain itu sebaiknya artikel disampaikan dengan mempertimbangkan aspek manusia. Semua itu agar tulisan menjadi ringan, membumi dan mudah dipahami.
Salah satu kelemahan dari penulis berlatar belakang pendidikan eksak saat menulis artikel adalah ketidakmampuan dalam menyentuh perasaan pembacanya serta tidak sesuai dengan masalah maupun kondisi keseharian pembacanya sehingga jangankan diterima, rasa tertarik untuk membaca artikelnya saja sangat minim.
Sangat dianjurkan, penulis artikel iptek juga menguasai ilmu humaniora, yaitu ilmu yang mempelajari kehidupan manusia sebagai makluk sosial, yang meliputi ilmu agama – sosial – budaya – hukum – sejarah – bahasa – dan sebagainya. Dengan kemampuan ini, penulis berpeluang untuk menggabungkan antara ilmu pengetahuan teknologi dengan ilmu sosial dan ilmu humaniora. Kemampuan ini akan membuat tulisannya semakin unik, lengkap dan mempunyai perspektif kemanusiaan yang luas.
Perspektif yang luas akan membuat penulis artikel iptek, selain meninjau materi tulisannya dari segi iptek juga mencermatinya dari sisi kemanusiaan sehingga bisa membawa manfaat bagi banyak pihak. Sebaliknya penulis artikel iptek yang tidak menguasai ilmu humaniora akan mengalami keterasingan, baik dari dirinya sendiri maupun dari masyarakat di sekitarnya. Karya yang dihasilkannya, bisa jadi hanya bermanfaat bagi dirinya semata, dan bukan mustahil justru mengganggu ketentraman, menimbulkan keresahan, memicu konflik bahkan mendatangkan bencana bagi masyarakat.
Demikian Bu Aristi, sedikit saran saya untuk mengevalusi artikel iptek yang telah ibu tulis. Teruslah menulis. Teruslah melibatkan first reader. Namun jangan lupa setelah artikel tersebut dikoreksi, segeralah kirim ke surat kabar. Biarkan ia berkompetisi melawan artikel-artikel yang lain. Selamat menulis. (*)

No comments:

Post a Comment